Simpang Amsterdam – Meminta Kematian Mengapa Tidak Boleh?

Belanda sudah memiliki UU eutanasia aktif dan hal tersebut sangat dihormati. Jika orang sudah tidak bisa lagi menahan sakit dan hidupnya menderita maka ia memiliki hak untuk meninggal dengan cepat.

Namun untuk meminta eutanasia dalam prakteknya tidak semudah membalik telapak tangan. Prosedurnya cukup rumit yaitu harus melewati komisi yang terdiri dari etik, kedokteran dan hukum.

Julia Maria van Tiel, dokter gigi yang tinggal di Belanda setuju dengan eutanasia aktif. Kendati demikian ia punya catatan yaitu jika pasien sudah tak tahan menanggung sakit dan keluarga nya sudah menerima dan melepaskan serta disetujui dokter.

Sementara itu Deden Setia Permana dari Partai Keadilan Sejahtera di Belanda, tidak setuju dengan eutanasia aktif. Di Belanda diizinkan, padahal di Indonesia hal itu sulit dimengerti dan sulit dimasukkan ke dalam UU.

Debat pro kontra soal eutanasia dipandu oleh Bari Muchtar.

**************************************************************************

DISKUSI

Rinaldi

balas

10 Januari 2012 – 12:57am / Indonesia

Argumentasi Deden Permana sangat kental berbasis agama. Ini abad 21, abad modern, dan norma-norma agama yang konservatif sudah tidak selayaknya dijadikan pedoman utama kehidupan manusia. UU Belanda sebagaimana dijelaskan Ibu Julia sudah mengatur secara baik tentang eutanasia.

Semua agama boleh saja “tidak memperbolehkan orang meminta kematian”. Tapi, apakah kita harus pakai norma agama yang konservatif demikian dalam hidup di era modern? Saya pikir bahwa kita, terutama orang Indonesia, harus mulai menyesuaikan diri dengan nilai-nilai modern bahwa ada pemisahan antara “agama” dan “kehidupan bermasyarakat”. Pada dasarnya, hidup itu adalah HAK. Jika seseorang tidak lagi menginginkan haknya, maka tentu –pada dasarnya– itu tidak bisa dipermasalahkan.

Junito Drias

balas

10 Januari 2012 – 9:31am

Halo Rinaldi, semua hukum positif menyerap semua sumber: nilai-nilai di masyarakat, pendapat hukum, dan aturan agama. Ini terjadi di semua negara termasuk negara modern. Memang aturan agama, kadang kala tak bisa diterapkan serta merta mengingat aturan agama(demikian juga sumber-sumber lain) sangat terikat konteks waktu dan kondisi di mana aturan itu mula-mula berlaku. Hidup merupakan hak yang dijamin oleh Deklarasi Universal HAM PBB, dan untuk Indonesia dijamin lewat UUD. Tapi anda begitu naif, serta merta merujuk pendapat gampang: “Pada dasarnya, hidup itu adalah HAK. Jika seseorang tidak lagi menginginkan haknya, maka tentu –pada dasarnya– itu tidak bisa dipermasalahkan.” 

Anda harus membedakan antara hak untuk hidup, dan hak untuk mati. UUD Indonesia dan Deklarasi HAM menjamin hak untuk hidup dan TIDAK MENGATUR hak untuk mati. Mengapa? karena para penyusun deklarasi sadar sejak awal, hak untuk mati itu sangat bias dan mudah dipelintir kanan kiri sehingga bisa dimanfaatkan untuk melawan HAK UNTUK HIDUP. Contoh paling mudah adalah operasi pembinasaan bayi-bayi dalam kandungan, maupun anak-anak baru lahir dalam konflik Bosnia-Serbia. Alasan yang dipakai -tentu ini bohong belaka- si anak-anak tersebut terlalu menderita untuk hidup. Demikian juga kalau anda bongkar-bongkar arsip tentang dokter maut kamp NAZI, yang sering memakai alasan kemanusiaan untuk membunuh manusia. Saya tahu, sekali lagi, para pelaku genosida itu, cuma beralasan saja, dan tujuan sesungguhnya memang membunuh. Tetapi, anda lihat betapa mudahnya alasan-alasan HAK UNTUK MATI bisa dipelintir demi tujuan politik atau tujuan-tujuan anti hak untuk hidup itu sendiri.

Eutanasia perlu diatur. Itu mutlak. Awal mula pemberlakuan uu eutanasia di Belanda bukan didorong oleh banyaknya orang yang ingin eutanasia seperti yang dikatakan seorang narasumber dalam diskusi. Tetapi lebih didorong oleh perlindungan atas dokter yang akan melakukan proses eutanasia. Karena dokter selalu dalam situasi serba salah jika menghadapi situasi di mana pasien tak punya harapn hidup. UU ini mengatur secara detil aturan main sehingga dokter (selama ikut aturan) dan mereka yang terlibat di dalam proses eutanasia, tidak bisa dipidana. Yang perlu diketahui angka eutanasia tidak lantas melonjak sejak uu ini berlaku di Belanda. Sekalipun Belanda “mengizinkan” eutanasia aktif, dalam prakteknya, tetap sulit dan rumit dilaksanakan. Singkatnya: tidak mudah melakukan eutanasia di Belanda. Anda bisa baca artikel ttg eutanasia di Ranesi. http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/search/apachesolr_search/eutanasia

Namun argumen anda soal hak untuk mati, itu bukanlah argumen tepat pemberlakuan uu Eutanasia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s