inilah kisahku

Sudah 6 bulan lebih aku menempati daerah ini. Daerah yang tidak pernah aku singgahi sebelumnya dan juga tidak ada sanak keluarga satu pun yang mendiami daerah ini. Walaupun masih berada dalam satu pulau dengan tempat tinggalku, tetap saja aku masih asing berada di daerah ini dengan bahasa yang sangat jauh berbeda dengan daerah asalku.

Daerah ini berada di kabupaten subang. Ini salah satu daerah pemekaran provinsi bandung yang wilayahnya dekat dengan cirebon (sekitar 3 jam) dan dekat dengan jakarta (sekitar 2,5 jam). Ya, letaknya memang strategis untuk wilayah perkampungan yang diapit dengan kota-kota besar di pulau jawa, jakarta-bandung-cirebon. Namun, keuntungan segi geografis ini tidak dimanfaatkan dengan baik untuk pembangunan infrastruktur didalamnya. Perkembangannya tertinggal dari purwakarta yang lebih maju (itu berdasar dari cerita temanku yang berasal dari sana, entah dinilai secara subjektif atau objektif), dan aku pun sebenarnya tidak terlalu setuju dengan pendapatnya karena aku belum pernah mendatangi daerah yang bernama purwakarta itu.

Whalaa! Disinilah aku belajar semuanya. Mengenal daerah, lingkungan, orang-orang sekitar dan juga kebiasaan yang ada. Keluar dari kebiasaan jelekku sewaktu aku tinggal di jakarta dulu yaitu “mendem dirumah”.

Pertama, aku akan membahas tentang bahasa. Disini aku banyak belajar bahasa sunda. Bahasa yang aku anggap asing di awal kedatanganku, namun lama-lama aku merasa sangat tertarik dengan bahasa ini. Bahasa yang biasa diucapkan dengan intonasi khas (intonasi yang naik-turun,bahkan dalam satu kata saat diucapkan,red.), yang bila diucapkan oleh perempuan-perempuan sunda terkesan sangat manja terdengar. Euh,legit pokoknya! Hehe..
Ibu kontrakan(yang biasa ku panggil dengan sebutan emak,red.) yang memang asli subang sering mengajariku bahasa sunda. Bahkan ketika dia sedang bercerita pun, dia sering menggunakan bahasa sunda yang banyak tak ku mengerti. Dia sering tertawa lucu melihat ekspresiku yang melongo seperti sapi ompong saat dia bercerita dan aku tak satupun memahami bahasanya. Sontak saja,biasanya aku mengucapkan “nte naon-naon,emak. Nte ngarti” hehe. Lalu setelahnya dia menjelaskan satu per satu kata yang diucapkannya hingga bertambahlah kosakata bahasa sundaku. Namun,perkembangan itu tak membuat aku lantas berani mengucapkan bahasa sunda. Ada bagian di otak yang bernama area broca, area yang dikhususkan untuk kemampuan berbicara dan arean wernicke yang dikhususkan untuk kemampuan memahami bahasa (mohon koreksinya jika ada yang salah,red.). Nah,di bagian broca itulah sepertinya otakku lemah. Aku lebih mudah untuk memahami dibahasa dibanding ketika aku berbicara. Jadi, ya beginilah. Banyak teman-temanku yang menganggap aku seorang yang pendiam. Ups! Jadi curcol gini. Yuk, balik lagi ke bahasan subang.

Kedua, lingkungannya. Subang termasuk daerah yang dikelilingi oleh banyak hutan karet (baca:daerah kalijati) dan juga obyek wisata (baca:ciater dan lembang). Rendahnya daya inovasi masyarakat subang menurutku membuat daerah ini jauh tertinggal dengan daerah disekitarnya. Hanya mungkin beberapa yang menjadi keunggulan untuk pemasukan pendapatan daerahnya adalah ada banyaknya pabrik-pabrik yang dibangun di sekitarnya. Masyarakat subang turut andil besar untuk menjadi bagian dari karyawannya. Lalu perkembangan Islam di masyarakatnya menurutku kurang baik. Aku menilai ini saat bulan Ramadhan kemarin. Antusias masyarakat untuk solat tarawih disini lebih rendah dibanding daerah asalku di jakarta. Aku menilainya dari sekup kecil, yaitu tetangga-tentangga di sekitar rumah kontrakanku. Bahkan setelah aku ketahui, ternyata minat mereka untuk menghadiri solat tarawih khusus perempuan adalah karena sang pemilik majelis ta’lim itu menghadiahkan beberapa puluh ribu untuk jumlah kehadiran mereka. Wallahu’alam. Hati dan niat hanya Allah saja yang tahu. Dan semoga niat mereka menghadiri solat tarawih ikhlas untuk Allah ta’ala.
Lain lagi untuk perayaan hari-hari besar Islam. Di rumah asalku, biasanya keramaian dan kehebohan masyarakat untuk menyambut hari besar Islam dengan berbagai petasan di langit dengan latar suara takbiran dari masjid-masjid yang menggema ke angkasa. Disini, terutama di sekitar rumah kontrakanku, keramaian menyambut hari raya Islam tidaklah semenarik dengan apa yang terjadi di wilayah asalku. Berbeda halnya dengan masyarakat cirebon yang ramai merayakan hari besar Islam. Menurut penuturan temanku yang sedang menjalani kepaniteraan tepatnya di gunung jati, dia bercerita bahwa disana diadakan pawai dalam rangka menyambut tahun baru Islam. Berbagai kostum-kostum menarik yang santun yang ditunjukkan dalam pawai itu membuat aku begitu penasaran ingin melihatnya. Namun, hanya foto-foto darinya yang ku dapatkan.

Ketiga, kebiasaan masyarakat subang. Konon,dulu sekali aku pernah mendengar mitos bahwa lelaki sunda adalah lelaki yang suka kawin. Aku pun kurang paham dengan mitos itu. Entah maksudnya adalah laki-laki yang suka berpoligami, atau laki-laki yang suka kawin trus ditinggal alias diceraikan lalu kawin lagi dengan perempuan lain, atau malah laki-laki yang suka kawin trus istrinya ditinggal begitu saja sementara ia pergi merantau dan tak pernah mengabari istrinya. Beberapa lama aku tinggal disini,agaknya aku bisa menarik garis lurus untuk penjelasan mitos itu. Karena banyaknya kejadian yanng diceritakan oleh emak bahwa banyak perempuan-perempuan di sekitarnya yang menjadi gila karena ditinggal pergi suaminya yang merantau dan tak pernah ada kabarnya hingga bertahun-tahun. Seorang konsulenku juga pernah menceritakan hal yang sama. Tingginya angka kejadian ini, yang menjadi latar belakang perempuan-perempuan subang banyak yang merokok. Selain dari faktor trending yang berkembang pada zamannya, faktor stres ini juga berperan penting dalam meningkatnya angka kejadian merokok pada wanita usia produktif di subang.

Beginilah sepenggal kisah perjalanan hidupku selama aku berada jauh dari keluargaku. Aku suka mengobservasi daerah baru,orang-orang baru dan lingkungan baru yang aku hadapi. Walau begitu, aku tetap bangga pernah berada disini. Kenangan menarik yang takkan pernah aku lupakan. Terakhir, mohon dimaafkan atas kesalahan-kesalahanku dalam menulis nama daerah atau penilaian yang mungkin kurang baik untuk ditarik kesimpulan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s